Tim Pengabdian Masyarakat UM Wujudkan Eduwisata Konservasi Penyu di Pantai Kili-Kili untuk Mendukung SDGs ke-13 dan ke-14

UM konservasi penyu
Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat UM menginisiasi program pengabdian masyarakat di Pantai Kili-Kili, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek

Kabupaten Trenggalek, inimalangraya.com  – Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Universitas Negeri Malang (UM) di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., menginisiasi program pengabdian masyarakat di Pantai Kili-Kili, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek melalui eduwisata konservasi penyu.

Program ini bertujuan melestarikan penyu melalui model eduwisata berbasis Interest, Action, Share (IAS) yang menggabungkan edukasi konservasi, aksi nyata pelestarian, dan penyebaran informasi positif kepada publik.

Lokasi ini merupakan salah satu Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) di Indonesia yang menjadi habitat penting bagi penyu, namun menghadapi tantangan serius akibat sampah laut, minimnya vegetasi pandan laut, dan kurangnya program edukasi yang terstruktur bagi wisatawan.

Sebagai langkah awal, tim pengabdian berkordinasi Pak Ari Gunawan S.Pd selaku Ketua Pengelola Kawasan Konservasi Pantai Kili-kili dan Sekretaris Desa Wonocoyo yaitu Pak Eko Margono untuk memulai kegiatan ini.

Dalam kegiatan ini, materi yang diberikan mencakup isu lingkungan, bahaya sampah laut, serta pentingnya konservasi penyu.

Program ini juga dilengkapi dengan pelatihan pengolahan sampah menggunakan mesin pencacah untuk menghasilkan kompos, penanaman pandan laut sebagai habitat alami penyu, dan patroli penetasan telur penyu untuk mencegah gangguan predator maupun aktivitas manusia yang merusak.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pelestarian ekosistem laut, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-13 tentang penanganan perubahan iklim dan SDGs ke-14 tentang ekosistem laut.

Konsep Ekonomi Biru

Selain itu, program ini selaras dengan konsep ekonomi biru melalui pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Wisatawan yang terlibat dalam kegiatan penanaman pandan laut dan konservasi penyu diharapkan mendapatkan pengalaman edukatif yang dapat mereka bagikan kembali, sehingga memperluas dampak positif program.

Prof. Sumarmi menegaskan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi aktif antara akademisi, masyarakat, pemerintah daerah, dan komunitas lokal.

“Kami berharap Pantai Kili-Kili menjadi destinasi eduwisata unggulan yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjaga kelestarian penyu dan lingkungan pesisir,” ujarnya.

Program ini ditargetkan berjalan berkelanjutan dan menjadi model percontohan pengelolaan kawasan konservasi berbasis partisipasi masyarakat di Indonesia.

Tinggalkan Komentar