Waspada! Cuaca Ekstrem Ancam 34 Wilayah di Jatim

BMKG Juanda mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat di Jawa Timur terkait potensi cuaca ekstrem pada periode 31 Oktober hingga 6 November 2024.
BMKG Juanda mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat di Jawa Timur terkait potensi cuaca ekstrem pada periode 31 Oktober hingga 6 November 2024. Foto: Instagram/infobmkgjuanda

Kota Malang, inimalangraya.com,- BMKG Juanda mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat di Jawa Timur terkait potensi cuaca ekstrem pada periode 31 Oktober hingga 6 November 2024. Berdasarkan data terbaru, cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, petir, dan hujan es.

Cuaca ekstrem ini diprediksi terjadi di beberapa wilayah, termasuk Kabupaten Blitar, Bojonegoro, Ponorogo, Probolinggo, Tulungagung, dan Bangkalan. Kondisi ini dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga puting beliung.

BMKG Juanda menegaskan, masyarakat perlu waspada terhadap ancaman banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, terutama di wilayah dengan topografi curam seperti pegunungan atau tebing.

Tidak hanya itu, jalanan licin, pohon tumbang, dan berkurangnya jarak pandang juga diperkirakan menjadi masalah yang timbul akibat cuaca ekstrem ini.

Daerah yang diprediksi terdampak meliputi 34 wilayah kabupaten/kota, termasuk Kota Surabaya, Kota Batu, dan Kabupaten Malang, yang sebagian besar sudah memasuki musim hujan.

Suhu muka laut yang meningkat di perairan Jawa Timur menjadi salah satu penyebab cuaca ekstrem ini. Suhu permukaan laut yang hangat menambah suplai uap air di atmosfer, yang akhirnya memicu hujan deras dalam periode panjang. BMKG Juanda mengingatkan bahwa pola ini sangat rentan menyebabkan bencana hidrometeorologi.

BMKG Juanda meminta masyarakat untuk selalu memantau perkembangan cuaca, khususnya melalui media resmi dan aplikasi cuaca. Diharapkan pula agar masyarakat di wilayah rawan, memperhatikan potensi bahaya yang bisa mengancam.

Langkah antisipatif seperti menjaga lingkungan, memastikan kelancaran saluran air, dan menghindari aktivitas luar ruangan saat cuaca buruk sangat dianjurkan. Dengan kerja sama antara masyarakat dan pihak berwenang, risiko bencana hidrometeorologi dapat diminimalkan.

Sumber: BMKG Juanda

Tinggalkan Komentar