Pemkot Malang Replikasi Inovasi BREXIT untuk Pelayanan Inklusif

MALANG, inimalangraya.com,- Dalam rangka meningkatkan pelayanan publik yang inklusif, Pemerintah Kota Malang dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB) RI menandatangani komitmen replikasi inovasi BREXIT (Braille e-Ticket And Extraordinary Access for Visual Disabilities). Acara ini berlangsung di Ruang Ngalam Command Center (NCC) Balai Kota Malang pada Kamis (15/8).
Penandatanganan komitmen ini dihadiri oleh Asisten Deputi Koordinasi dan Fasilitasi Strategi Pengembangan Praktik Terbaik Pelayanan Publik KemenPANRB RI Ajib Rakhmawanto, Sekretaris Daerah Kota Malang Erik Setyo Santoso, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Husnul Muarif, serta perwakilan dari 16 Puskesmas di Kota Malang. Acara ini juga disaksikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni dan Kepala Bagian Organisasi Setda Kota Malang Boedi Utomo.
Sekda Kota Malang, Erik Setyo Santoso, dalam sambutannya menekankan pentingnya inovasi dalam tata kelola pemerintahan untuk meningkatkan daya saing daerah dan memberikan pelayanan publik yang prima.
“Pemerintah Kota Malang berupaya untuk terus memberikan pelayanan publik yang prima melalui pengembangan inovasi di setiap perangkat daerah,” ujar Erik.
Sejak 2019, Pemkot Malang rutin mengikuti kompetisi inovasi publik untuk mempercepat peningkatan kualitas pelayanan publik di Kota Malang. Salah satu inovasi unggulan adalah BREXIT dari UPT Puskesmas Janti, yang meraih prestasi dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK) yang diselenggarakan oleh KemenPANRB.
Mengembangkan Ekosistem Inklusif
“Inovasi BREXIT ini mendukung penguatan ekosistem perkotaan yang inklusif,” tambah Erik.
Ia juga mengapresiasi KemenPANRB yang telah memfasilitasi upaya pengembangan inovasi BREXIT melalui replikasi dan scaling up. Dengan dukungan dari KemenPANRB, diharapkan inovasi ini bisa terus berkembang dan berkelanjutan.
Penandatanganan komitmen oleh 16 puskesmas di Kota Malang ini bertujuan untuk menyebarluaskan praktik-praktik inovatif yang efektif. Sehingga dapat diadopsi oleh tempat lain untuk meningkatkan kualitas layanan.
“Kami berharap KemenPANRB terus mendampingi dan membina replikasi inovasi lainnya di Kota Malang. Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang lebih optimal,” tutup Erik.
Ajib Rakhmawanto, Asisten Deputi KemenPANRB, menyatakan bahwa inovasi-inovasi di Kota Malang memiliki potensi signifikan.
“BREXIT memudahkan kaum difabel dalam mendapatkan pelayanan publik di puskesmas,” ujarnya. Ajib berharap inovasi BREXIT dapat direplikasi di seluruh puskesmas di Kota Malang.
“Inovasi yang bagus harus disebarluaskan, tidak hanya diciptakan,” tegas Ajib. Ia menekankan pentingnya mentransfer inovasi terbaik dari satu daerah ke daerah lain untuk mewujudkan pelayanan publik yang prima.
Tim dari Puskesmas Janti memaparkan tentang inovasi BREXIT di hadapan Asisten Deputi dan tim KemenPANRB. Inovasi ini diharapkan menjadi model bagi puskesmas lainnya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang inklusif di Kota Malang.
Melalui inovasi ini, diharapkan semakin banyak penyandang disabilitas netra yang dapat mengakses layanan kesehatan secara mandiri dan nyaman. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya memberikan pelayanan publik yang lebih baik.
Sumber: Pemkot Malang
BACA JUGA
