UB Bebaskan IPI untuk Mahasiswa Difabel Jalur SMPD

Universitas Brawijaya (UB) telah mengambil langkah signifikan dalam mendukung mahasiswa difabel dengan membebaskan Iuran Pengembangan Institusi (IPI) bagi Mahasiswa Baru Difabel (Madif) yang diterima melalui jalur Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas (SMPD).
Penyematan Jas Almamater oleh Rektor UB kepada Mahasiswa Difabel. Foto: Prasetya UB

MALANG, inimalangraya.com,-Universitas Brawijaya (UB) telah mengambil langkah signifikan dalam mendukung mahasiswa difabel dengan membebaskan Iuran Pengembangan Institusi (IPI). Pembebasan IPI diberikan pada Mahasiswa Baru Difabel (Madif) yang diterima melalui jalur Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas (SMPD). Kebijakan ini diumumkan oleh Kepala Subdirektorat Layanan Disabilitas (SLD), Zubaidah Ningsih AS., Ph.D, pada Kamis (15/8).

Zubaidah menjelaskan bahwa selain pembebasan IPI, UB juga memberikan bantuan biaya UKT bagi mahasiswa difabel.

“Pemerintah menawarkan beasiswa ADIK yang baru bisa diakses di semester satu, sehingga pimpinan UB memberikan kebijakan ini sebagai bentuk dukungan beasiswa UB kepada mahasiswa difabel,” paparnya.

Tahun ini, UB menerima 19 mahasiswa difabel, 15 orang diterima jalur SMPD dan empat mahasiswa dari jalur SNBP dan SNBT. Mahasiswa ini terdiri dari ADHD (1 orang), Tunadaksa (6 orang), Tuli (8 orang), Tunanetra (3 orang), dan Slow Learner (1 orang). Mereka tersebar di berbagai fakultas. Fakultas tersebut diantaranya Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Teknik, Fakultas MIPA, dan Fakultas Vokasi.

 

Baca Juga:

 

Fasilitas Khusus untuk Mahasiswa Difabel

Sejak menerima mahasiswa difabel pada tahun 2012, UB terus meningkatkan fasilitas dan layanan pendukung. SLD memberikan pendampingan, dosen yang terlatih untuk mengajar mahasiswa difabel, mobil kursi roda untuk mobilisasi di kampus, screen reader untuk membantu mahasiswa tunanetra membaca materi perkuliahan, serta coaching class untuk pembelajaran intensif, persiapan TOEFL, dan penyusunan skripsi. SLD juga bekerja sama dengan Unit Konseling untuk memberikan pendampingan psikologis.

Dalam rangka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya (PKKMB UB) Tahun Akademik 2024/2025, UB menggelar kegiatan selama tiga hari, Senin-Rabu (12-14/08). Tahun ini, mahasiswa baru diberi tugas membuat video perkenalan menggunakan bahasa isyarat.

Ketua Pelaksana Rangkaian Acara Jelajah Almamater UB (RABRAW) 2024, Muhammad Zaki Ibrahim, menyampaikan bahwa tugas tersebut merupakan bentuk dukungan inklusi-disabilitas di kampus.

“Kepanitiaan RABRAW tahun ini melibatkan beberapa mahasiswa difabel, dan penugasan untuk maba juga lahir dari inisiatif panitia difabel. Ini sebagai salah satu implementasi inklusivitas di kampus,” ungkap Zaki.

Dukungan Terhadap Mahasiswa Difabel

Zubaidah mengapresiasi keterlibatan mahasiswa difabel dalam kepanitiaan PKKMB, termasuk memberi pembekalan disability awareness kepada 200 supervisor cluster.

“Saya senang dengan perkembangan ini. Karena mahasiswa disabilitas sudah mampu berkarya bersama dengan teman-temannya diwujudkan dengan kerja sama mereka di panitia PKKMB,” katanya.

SLD juga mendata dan mengakumulasi kebutuhan maba difabel, seperti Juru Bahasa Isyarat (JBI), pendampingan, atau pengetik cepat.

“Kami menyediakan sembilan pengetik cepat agar maba difabel memahami materi yang disampaikan secara langsung di Google Docs. Kami juga menyediakan dua belas JBI, pendamping untuk tunanetra, pendorong kursi roda, serta pendamping untuk ADHD dan slow learner. Semua ini untuk memfasilitasi agar mahasiswa difabel tetap fokus mengikuti PKKMB,” pungkas Zubaidah.

Pembebasan IPI dan berbagai fasilitas pendukung lainnya yang diberikan oleh UB diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas dan kualitas pendidikan bagi mahasiswa difabel. Dengan dukungan yang optimal, mahasiswa difabel dapat mengembangkan potensi mereka secara maksimal dan berkontribusi secara aktif dalam kehidupan kampus.

Sumber: Humas UB

Tinggalkan Komentar