Bahasa Gaul Gen Alpha; Wajar Atau Tidak?

Surabaya, inimalangraya.com – Bagi mereka yang memiliki anak di gen Alpha, mereka pasti sering mendengar bahasa gaul seperti skibidi, sigma, mewing, dan semacamnya.
Setiap generasi memang selalu memiliki perubahan bahasa gaul. Bagi banyak orang tua, istilah tersebut tak akan mereka mengerti.
Sebagai informasi, generasi Alpha ini adalah mereka yang lahir pada tahun 2010 hingga 2020. Saat ini, Gen Alpha gunakan makin banyak kosa kata saat berkomunikasi. Apakah ini merugikan?
Guru Besar Bidang Ilmu Etnolinguistik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Dra Ni Wayan Sartini Mhum jelaskan bagaimana kosakata baru ini terbentuk.
Menurut dia, bahasa Gen Alpha besar pengaruhnya dari teknologi dan media sosial. Pasalnya, mereka tumbuh di tengah ekosistem digital sehingga generasi alpha terbiasa gunakan berbagai kosakata unik tersebut.
“Di era serba digital seperti ini, ragam jenis bahasa baru muncul. Salah satunya adalah bahasa yang Gen Alpha gunakan. Pada dasarnya, cikal bakal itu merupakan perkembangan dari bahasa gaul yang sudah digunakan oleh Gen-Z kemudian alami perkembangan semasa Gen Alpha,” ujar dia seperti dikutip dari InfoPublik.
Prof Wayan sebutkan kian kompleksnya perkembangan masyarakat juga jadi pemicu perubahan model komunikasi seperti ini.
“Gen Alpha memiliki kecenderungan untuk terhubung satu sama lain. Pasalnya mereka punya pengaruh interaksi di ragam platform,” lanjut dia. “Mereka tengah dalam fase pencarian jati diri. Karena itu, mereka punya cara berkomunikasi yang khas melalui berbagai kata-kata baru. Ada pula emoticon dan emoji yang permudah pengucapan dari bahasa aslinya,” kata dia.
Selain itu, Prof Wayan juga soroti penggunaan istilah beken.
Contohnya mewing dimana hal ini merujuk pada teknik perbaiki bentuk wajah. Sedangkan rizz yang adalah kependekan dari karisma.
Bagi dirinya secara pribadi, semua kosakata tersebut adalah perwujudan sisi kreativitas dari generasi Alpha. Ia sebutkan fenomena seperti ini sebagai bagian inovasi dari bahasa yang muncul dari generasi ini.
Bersifat Temporer
Ia tambahkan bahwa bahasa gaul Gen Alpha tersebut bersifat temporer saja. “Sah-sah saja saat Gen Alpha gunakan bahasa tersebut dalam komunikasi mereka. Karena ini sesuai dengan usianya. Tetapi, seperti bahasa gaul yang sudah sebelumnya, bahasa Gen Alpha bisa jadi akan hilang saat mereka beranjak dewasa. Lalu mereka hadapi konteks kehidupan berbeda. Dimana nantinya penutur istilah tersebut makin sedikit,” jelas dia.
Menurut Wayan, ia katakan bahasa serta budaya berjalan seiring serta sesuai konteks zaman.
“Bahasa Gen Alpha jadi identitas sosial yang mereka miliki. Tak ada pengaruh negatif untuk budaya. Tentu selama penggunaan bahasa ini berada di ranah informal,” tambah dia.
Tetapi, ia juga ingatkan bahwa bahasa gaul tersebut tidak sampai dipergunakan dalam ranah formal.
“Bahasa gail itu tak akan rusak bahasa Indonesia jika penggunaan tersebut berada pada konteks komunikasi yang mereka gunakan. Jadi perlu penyesuaian kepada siapa dan kapan mereka berbicara,” kata dia.
BACA JUGA

