Perundingan Gencatan Senjata Buntu, Israel Blokir Bantuan ke Gaza

Israel Blokir Bantuan Gaza
Kondisi Gaza terkini setelah kesepakatan lanjutan gencatan senjata antara Israel dan Hamas buntu (tangkapan layar YouTube DW News)

Yerusalem, inimalangraya.com– Israel blokir masuknya truk bantuan ke Gaza pada Minggu 2 Maret 2025 saat kesepakatan lanjutan gencatan senjata dengan Hamas buntu.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan sebelumnya bahwa mereka telah mengadopsi proposal oleh utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Steve Witkoff, untuk gencatan senjata sementara di Gaza selama periode Ramadan dan Paskah.

Proposal ini muncul beberapa jam setelah fase pertama gencatan senjata yang disepakati sebelumnya berakhir.

Jika disetujui, gencatan senjata akan menghentikan pertempuran hingga akhir periode puasa Ramadan sekitar tanggal 31 Maret dan hari raya Paskah Yahudi sekitar tanggal 20 April.

Mesir Sebagai Mediator Kesepakatan Gencatan Senjata Permanen

Kemudian pada hari Minggu 2 Maret, pejabat Israel mengatakan sebuah delegasi akan tiba di Kairo untuk membahas cara-cara meredakan ketegangan dan memastikan gencatan senjata tetap berlaku.

Berbicara pada sebuah konferensi pers dengan mitranya dari Kroasia, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan warga Palestina di Gaza tidak akan dapat bantuan gratis. Ia katakan juga perundingan lebih lanjut harus berlangsung dengan pembebasan para sandera.

Dia mengatakan Amerika Serikat memahami keputusan Israel untuk blokir bantuan barang ke Gaza, menyalahkan Hamas atas kebuntuan saat ini dalam perundingan tersebut.

Gencatan senjata akan bersyarat pada Hamas yang membebaskan setengah dari sandera yang hidup dan mati pada hari pertama.

Sisanya dibebaskan pada akhir, jika kesepakatan dicapai pada gencatan senjata permanen.

Seorang pejabat senior Hamas, Mahmoud Mardawi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kelompoknya hanya akan membebaskan sandera Israel yang tersisa berdasarkan ketentuan kesepakatan bertahap yang telah disepakati.

Serangan IDF Tewaskan Empat Warga Palestina

Pejabat kesehatan setempat mengatakan tembakan militer Israel (IDF) telah menewaskan empat warga Palestina dalam serangan terpisah di Jalur Gaza utara dan selatan.

IDF klaim telah mengindentifikasi ‘tersangka’ dekat dengan pasukannya di Gaza utara dan mereka telah menanam bom.

Pihaknya tambahkan pula bahwa serangan udara dilakukan untuk menghilangkan ancaman.

Sumber-sumber Mesir mengatakan pada hari Jumat bahwa delegasi Israel di Kairo telah berupaya untuk memperpanjang fase pertama selama 42 hari. Sementara Hamas ingin beralih ke fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata.

Juru bicara Hazem Qassem mengatakan pada hari Sabtu bahwa kelompok itu menolak “rumusan” Israel untuk memperpanjang fase pertama.

Pada fase pertama gencatan senjata, Hamas menyerahkan 33 sandera Israel serta lima warga Thailand yang dikembalikan dalam pembebasan tak terjadwal, sebagai imbalan atas sekitar 2.000 tahanan dan tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel dan penarikan pasukan Israel dari beberapa posisi mereka di Gaza.

Berdasarkan perjanjian awal, fase kedua dimaksudkan untuk melihat dimulainya negosiasi atas pembebasan 59 sandera yang tersisa, penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, dan akhir perang.

Namun perundingan tidak pernah mulai dan Israel mengatakan semua sanderanya harus dikembalikan agar pertempuran dihentikan.

“Israel tidak akan mengizinkan gencatan senjata tanpa pembebasan sandera kami,” kata kantor Netanyahu yang mengumumkan Israel akan blokir semua bantuan dan pasokan ke Jalur Gaza akan dihentikan.

“Jika Hamas tetap menolak, akan ada konsekuensi tambahan.”

Hamas Minta Perundingan Gencatan Senjata Tahap Kedua Segera

Hamas mengecam langkah Israel sebagai pemerasan dan kudeta terang-terangan terhadap perjanjian.

“Kami meminta mediator untuk menekan pendudukan agar memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian, dalam semua tahapannya,” kata Hamas.

Pihaknya menambahkan bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali para sandera adalah dengan mematuhi perjanjian dan memulai perundingan untuk tahap kedua.

Mengomentari penangguhan bantuan, pejabat senior Hamas Sami Abu Zuhri mengatakan kepada Reuters bahwa keputusan tersebut akan memengaruhi perundingan gencatan senjata, seraya menambahkan kelompoknya tidak menanggapi tekanan.

Rencana Jangka Panjang Israel vs Hamas

Selama enam minggu terakhir, kedua belah pihak saling menuduh telah melanggar perjanjian. Namun, meskipun ada kendala berulang, perjanjian tersebut tetap berlaku sementara pertukaran sandera dengan tahanan yang direncanakan pada tahap pertama telah selesai.

Namun, ada kesenjangan yang lebar keputusan akhir, termasuk bentuk pemerintahan pascaperang Gaza dan masa depan Hamas.

Israel bersikeras bahwa Hamas tidak dapat berperan dalam masa depan pascaperang Gaza dan bahwa struktur militer dan pemerintahannya harus lenyap.

Selain itu, penolakan Israel juga terkait keterlibatan Otoritas Palestina (Palestinian Authority) ke Gaza, badan bentukan Perjanjian Oslo tiga dekade lalu yang menjalankan pemerintahan terbatas di Tepi Barat.

Hamas mengatakan tidak akan bersikeras untuk terus memerintah Gaza, yang telah pihaknya kuasai sejak 2007. Tetapi pihaknya minta keterlibatan mengenai pemerintahan apa pun yang akan jadi kesepakatan bersama.

 

Tinggalkan Komentar