Dibakar Kekasih, Pelari Maraton Uganda Akhirnya Meninggal

Pelari Maraton Uganda Dibakar Kekasih
Rebecca Cheptegei, pelari maraton Uganda yang meninggal alami luka bakar 75 persen (reuters)

Nairobi, inimalangraya.com – Pelari maraton Olimpiade asal Uganda Rebecca Cheptegei meninggal pada Kamis (5/9) setelah disiram bensin dan dibakar kekasih di Kenya pada Minggu (1/9).

Media Kenya dan Uganda melaporkan bahwa Cheptegei, 33, yang berkompetisi di Olimpiade Paris, menderita luka bakar di lebih dari 75 persen tubuhnya.

Kejadian ini menjadikannya sebagai olahragawan wanita ketiga yang tewas di Kenya sejak Oktober 2021.

“Kami telah mendengar tentang meninggalnya atlet Olimpiade kami Rebecca Cheptegei… setelah serangan kejam oleh pacarnya,” kata Donald Rukare, presiden Komite Olimpiade Uganda, dalam sebuah posting di X.

“Semoga jiwanya yang beristirahat dengan tenang dan kami mengutuk keras kekerasan terhadap wanita,” katanya.

Pelari yang finis di posisi ke-44 di Paris itu dirawat di rumah sakit di kota Eldoret, Lembah Rift, Kenya, setelah serangan itu.

“Cheptegei meninggal hari ini pukul 5.30 pagi setelah organ tubuhnya gagal berfungsi,” jelas Owen Menach, direktur senior layanan klinis di RS Moi, seperti dilansir dari Reuters.

Ia menambahkan bahwa laporan lengkap mengenai keadaan kematiannya akan dirilis segera

Menteri Olahraga Kenya Kipchumba Murkomen sebut kematiannya sebagai berkabung nasional

“Tragedi ini adalah pengingat yang kuat bahwa kita harus berbuat lebih banyak untuk memerangi kekerasan berbasis gender dalam masyarakat kita. Dalam beberapa tahun terakhir hal ini telah menampakkan sisi buruknya di kalangan olahraga elit,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Federasi atletik Uganda menyerukan keadilan bagi Cheptegei.

Peter Ogwang, menteri negara bagian untuk olahraga Uganda, mengatakan otoritas Kenya sedang menyelidiki pembunuhan itu.

Pelari Maraton Uganda Dibakar Kekasih Bukan Satu-Satunya Kasus Kekerasan Wanita Di Afrika

Selama ini, marak kekerasan yang dialami oleh perempuan di negara Afrika Timur itu.

Hampir 34 pesen  anak perempuan dan perempuan Kenya berusia 15-49 tahun telah mengalami kekerasan fisik, menurut data pemerintah dari tahun 2022.

Wanita yang sudah menikah berada pada risiko lebih tinggi.

Survei tahun 2022 menemukan bahwa 41 persen perempuan yang sudah menikah rentan hadapi kekerasan.

Sebuah laporan oleh UN Women dan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan laporkan pada 2022, negara-negara Afrika mencatat jumlah pembunuhan perempuan terbesar.

Pada bulan Oktober 2021, pelari Olimpiade Agnes Tirop dari Kenya ditemukan tewas di rumahnya di kota Iten. Ia tewas dengan beberapa luka tusuk di leher.

Ibrahim Rotich, suaminya, didakwa atas pembunuhannya dan telah mengaku tidak bersalah.

Hingga kini kasusnya masih berlangsung.

Pembunuhan wanita berusia 25 tahun itu mengejutkan Kenya.

Padahal, beberapa atlet dan mantan atlet mendirikan ‘Tirop’s Angels’ pada tahun 2022 untuk memerangi kekerasan dalam rumah tangga.

Joan Chelimo, salah satu pendiri lembaga nirlaba tersebut, mengatakan kepada Reuters bahwa atlet wanita berisiko tinggi mengalami eksploitasi dan kekerasan. Biasanya, kekasih mereka adalah para pria yang tergiur uang mereka.

“Mereka terjebak dalam perangkap para predator yang menyamar sebagai kekasih dalam kehidupan mereka,” katanya.

 

Tinggalkan Komentar