Kisah Bocah Palestina Rayakan Ulang Tahun Pertama Tepat Setahun Agresi Israel

Israel Palestina
Ali Al-Taweel kini berusia 1 tahun bertepatan dengan awal serangan Israel ke Gaza (AP)

Nuseirat, Gaza, inimalangraya.com — Seorang bocah Palestina rayakan ulang tahun pertamanya bertepatan dengan setahun serangan Israel ke Jalur Gaza.

Ali Al-Taweel lahir ketika pesawat tempur Israel mulai menggempur Jalur Gaza setelah serangan mendadak lintas batas Hamas di Israel selatan.

Kini, anak Palestina itu akan merayakan ulang tahun pertamanya saat perang Israel-Hamas mencapai puncaknya selama satu tahun.

Bagi ayah dan ibunya, tahun ini adalah tahun yang dipenuhi ketidakpastian dan kecemasan.

Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain di tengah kehancuran yang meluas dan sumber daya yang terbatas.

“Saya sempat mengatur kehidupan lain yang sangat manis untuknya,” kata ibu Ali, Amal Al-Taweel, kepada The Associated Press dalam sebuah wawancara. “Perang telah mengubah segalanya.”

Ketika perang dimulai pada 7 Oktober tahun lalu, Al-Taweel dilarikan ke rumah sakit di Gaza sebelum melahirkan.

Kehadiran anak tersebut telah lama ia dan suaminya, Mustafa Al-Taweel, nantikan selama tiga tahun.

Setelah Ali lahir, keluarganya kembali ke rumah mereka di lingkungan Zahrah, sebelah utara Wadi Gaza.

Namun keluarga Palestina ini terpaksa mengungsi pada 18 Oktober, hanya sehari sebelum pesawat tempur Israel mengebom daerah tersebut, kata Al-Taweel.

Sejak itu, mereka tinggal di rumah kerabat dan tempat penampungan di Gaza tengah dan selatan, termasuk kota Rafah sebelum militer Israel menyerbunya pada bulan Mei.

Mereka kini berlindung di rumah orang tua Al-Taweel di kamp pengungsi Nuseirat, bersama 15 kerabat lainnya.

“Tahun ini yang sangat sulit, buruk dalam segala hal. Baik dari sudut pandang kesehatan, dari sudut pandang psikologis,” kata ayah Ali.

Pria berusia 30 tahun itu menambahkan bahwa anaknya dibesarkan dengan latar belakang pemboman dan pembunuhan yang terjadi setiap hari.

Al-Taweel mengatakan setiap tahap kehidupan Ali sangatlah sulit, mulai dari saat dia mulai merangkak, saat giginya tumbuh gigi, memulai langkah pertamanya, hingga saat dia mulai berjalan.

Ia juga selalu mengkhawatirkan keselamatan suaminya. Suaminya pernah terluka ringan ketika sebuah serangan terjadi di dekat rumah saudara perempuannya di kamp.

Al-Taweel menceritakan berbagai tantangan yang dia dan suaminya hadapi. Suaminya yang kehilangan pekerjaan sebagai buruh harian di sebuah restoran tepi pantai di Kota Gaza.

Ali tidak menerima vaksinasi apa pun dalam enam bulan pertama, sehingga membuatnya rentan terhadap penyakit, kata ibunya.

Dan, dengan adanya blokade, dia kesulitan mendapatkan susu formula dan popok. “Jika ada harganya sangat mahal dan kami tidak mampu membelinya,” katanya.

Al-Taweel mengatakan bahwa pemboman, pengungsian yang terus-menerus telah mempersulitnya dalam membesarkan anaknya, sesuai ekspektasi saat kondisi masih normal.

“Tahun ini penuh dengan ketegangan, ketakutan, kecemasan, pengungsian, pemboman dan kehancuran,” katanya. “Dia tidak seperti anak-anak lain yang hidup di (lingkungan) yang aman, damai, dan sehat.”

Tinggalkan Komentar