Drama Tragis: Kronologi Suami Siram Air Keras di Kediri

Nurohmad alias Tompel (25), diduga menyiram istrinya, PK (24), dan anak balitanya, PM (2), dengan air keras di sebuah rumah kost di Kecamatan Ngasem, Kediri, Insiden itu terjadi pada Kamis (11/7). Foto: Humas Polri
Penyirama air keras di Kediri

KEDIRI, inimalangraya.com,– Suasana kehidupan di Kediri terguncang oleh kejadian tragis. Kejadian ini dimulai ketika seorang suami, Nurohmad alias Tompel (25), diduga menyiram istrinya, PK (24), dan anak balitanya, PM (2), dengan air keras di rumah kost, Kecamatan Ngasem. Insiden itu terjadi pada Kamis (11/7), dan mengguncang hati banyak orang.

Kronologi Tragis Terkuak

Kapolres Kediri, AKBP Bimo Ariyanto S.H., S.I.K, mengungkapkan bahwa terduga pelaku datang ke Kediri dengan maksud mengajak pulang istrinya dan anaknya ke Magelang, Jawa Tengah. Namun, pertemuan itu berubah menjadi momen tragis saat terjadi cekcok antara mereka berdua di rumah kost.

“Karena marah, terduga pelaku akhirnya membeli cairan air keras. Dia membeli dari salah satu toko di Kota Kediri,” jelas AKBP Bimo dalam konferensi pers di Aula Wicaksana Laghawa. Amarah yang memuncak menyebabkan terduga pelaku melakukan tindakan mengerikan tersebut terhadap anak dan istrinya.

Setelah perbuatannya, terduga pelaku melarikan diri, tetapi tidak berhasil menghindari kejaran polisi. Tim Resmob Satreskrim Polres Kediri, bersama Unit Reskrim Polsek Ngasem, segera melakukan penyelidikan intensif di sekitar Magelang, Jawa Tengah. Dukungan dari Unit Resmob Polresta Magelang turut membantu dalam penangkapan terduga pelaku pada Jumat (12/7) malam di Magelang.

Motif di Balik Kekejaman

AKBP Bimo menjelaskan bahwa motif terduga pelaku adalah rasa kesal karena istrinya menolak untuk kembali hidup bersamanya. “Terlebih lagi, dia curiga bahwa istrinya memiliki hubungan dengan pria lain,” tambahnya dengan nada prihatin.

Kondisi Anak yang Mengenaskan

Balita yang menjadi korban penyiraman air keras oleh terduga pelaku saat ini dalam kondisi kritis dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya, untuk mendapatkan perawatan medis yang intensif. “Kami sedang menunggu perkembangan lebih lanjut dari pihak rumah sakit terkait luka-luka yang dialami,” ungkap AKBP Bimo dengan nada prihatin.

Insiden ini tidak hanya mencoreng kehidupan keluarga yang terlibat, tetapi juga memantik kekhawatiran dan keprihatinan mendalam dari masyarakat Kediri akan kekerasan dalam rumah tangga dan perlindungan anak-anak. Langkah-langkah pencegahan dan perlindungan lebih lanjut diharapkan dapat mengurangi kasus serupa di masa depan.

Peristiwa tragis ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga keharmonisan dalam rumah tangga dan memberikan perlindungan yang kuat bagi anak-anak dari segala bentuk kekerasan.

 

Sumber: Humas Polri

 

Tinggalkan Komentar