Kriteria Kaligrafi Digital Perdana di MTQ Nasional 2024

Kaltim, inimalangraya.com,- Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-30 yang digelar di Kalimantan Timur membawa angin segar dengan hadirnya cabang baru, yaitu seni kaligrafi digital. Lomba ini menggunakan teknologi komputer dan perangkat grafis, menciptakan pengalaman baru bagi para peserta dan juri.
Tidak lagi terbatas pada kertas atau kanvas, seni kaligrafi kini dapat diekspresikan secara digital, menambah dinamika dalam dunia kaligrafi Islam di Indonesia.
Ujang Badrussalam, Ketua Dewan Hakim Lomba Kaligrafi, menjelaskan bahwa penilaian yang dilakukan berbeda dengan kaligrafi konvensional. Meski beberapa aspek tetap sama, seperti keindahan tulisan dan kesahihan huruf, unsur artistik lebih ditekankan dalam lomba digital ini.
Ujang menjelaskan bahwa ada beberapa poin penting yang dinilai, di antaranya kaidah kaligrafi, estetika tulisan, serta perpaduan warna dan komposisi yang menonjolkan kreativitas.
Ia juga menambahkan bahwa tata warna dan komposisi menjadi fokus utama dalam penilaian. Hal ini membuat kaligrafi digital terlihat lebih dinamis dan menantang dibandingkan dengan kaligrafi konvensional.
“Kaligrafi digital hampir menyerupai kaligrafi kontemporer dalam hal penilaiannya,” tambahnya.
Proses Pengerjaan dan Tantangan Baru
Lomba kaligrafi ini diikuti oleh 10 peserta dari 6 provinsi yang masing-masing menggunakan perangkat digital seperti laptop, tablet, dan drawing pad. Dengan perangkat lunak grafis, para peserta bisa menggabungkan elemen tradisional dengan inovasi teknologi, menciptakan karya seni yang berbeda dari kaligrafi fisik pada umumnya.
“Peserta benar-benar memanfaatkan alat digital seperti iPad, laptop, dan drawing pad untuk menciptakan karya kaligrafinya,” lanjut Ujang.
Proses pengerjaan ini juga memungkinkan mereka untuk memanipulasi elemen visual dengan lebih leluasa, menambah keindahan pada karya yang dihasilkan.
Meski masih dalam tahap ekshibisi, lomba kaligrafi ini mendapat sambutan positif dari peserta dan para provinsi yang terlibat. Lomba ini diharapkan dapat menjadi ajang tetap dalam MTQ mendatang, mengingat potensi besar yang dimiliki seni kaligrafi digital.
“Dengan perkembangan teknologi, kita berharap semakin banyak peserta yang tertarik untuk mengikuti lomba ini di masa depan. Selain itu, kemajuan perangkat lunak grafis akan semakin memperkaya estetika kaligrafi digital,” tutup Ujang.
Langkah ini menjadi bukti bahwa seni tradisional dapat berkembang seiring kemajuan zaman tanpa kehilangan esensinya. Inovasi kaligrafi membuka peluang baru bagi seniman muda untuk berkreasi dalam ruang yang lebih modern dan fleksibel.
Sumber: Kemenag
BACA JUGA

