Istana Garuda: Simbol Penyatuan 1.300 Suku Indonesia

IKN, inimalangraya.com,- Desainer utama Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara (IKN), Nyoman Nuarta, berbicara tentang filosofi mendalam yang melandasi desain istana tersebut. Menurut Nyoman, esensi utama dari Istana Garuda adalah simbol penyatuan lebih dari 1.300 suku di Indonesia. Dengan memilih bentuk Garuda sebagai representasi bangunan, Nyoman berupaya merangkul keberagaman suku di Indonesia tanpa memicu kecemburuan antar daerah.
Garuda: Simbol yang Universal
Nyoman menjelaskan bahwa pemilihan Garuda sebagai ide dasar desain didasari oleh pengenalannya yang luas di seluruh Indonesia. Mengingat Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat kaya, Nyoman merasa bahwa memilih satu identitas suku sebagai representasi istana akan kurang adil dan bisa menimbulkan kecemburuan.
“Saya memilih Garuda karena semua suku di Indonesia sudah mengenalnya. Tidak mungkin semua identitas suku terserap dalam satu bangunan,” ujar Nyoman, Minggu (11/8).
Dengan lebih dari 1.300 suku yang memiliki budaya khas masing-masing, Nyoman menekankan pentingnya pilihan desain yang bisa diterima semua pihak.
Nyoman menjelaskan bahwa bentuk Garuda menjadi solusi yang adil untuk menghindari kecemburuan antar suku.
“Untuk menghindari kecemburuan, saya menghindari penggunaan identitas salah satu suku dalam membangun Istana. Pilihan Garuda sebagai ide dasar adalah solusi yang adil,” tambahnya.
Garuda, sebagai lambang negara, sudah sangat dikenal oleh semua suku di Indonesia. Konsep ini dipilih untuk memperkuat rasa persatuan dalam desain Istana Garuda di IKN. Nyoman juga menekankan bahwa Lambang Garuda Pancasila diciptakan oleh Sultan Hamid II yang berasal dari Kalimantan, menepis anggapan bahwa Garuda berasal dari budaya Hindu.
Nyoman menanggapi kritik yang muncul dari kalangan arsitek yang kalah dalam kompetisi desain.
“Tidak ada satu pun dari ribuan suku yang memprotes pilihan desain ini. Yang protes justru dari kalangan arsitek yang kalah berkompetisi. Ini adalah hasil dari kompetisi desain, dan konsep saya bertujuan untuk mencegah perpecahan akibat desain yang tidak tepat,” jelas Nyoman.
Persepsi dan Warna Istana Garuda
Menanggapi kesan mistis yang mungkin muncul terkait desain Istana Garuda, Nyoman mempersilakan setiap orang untuk memiliki persepsi masing-masing, yang menurutnya dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman pribadi mereka.
Ia juga menjelaskan tentang warna Istana Garuda, di mana bagian muka yang berwarna kuningan akan mengalami perubahan secara perlahan menjadi hijau kebiruan, proses yang dikenal dengan nama patina. Sementara itu, struktur bilah yang terbuat dari baja tahan cuaca akan berubah dari kemerahan menjadi gelap dalam waktu 1-2 tahun.
“Garuda tampak gagah dengan kepala yang menengok ke depan. Terserah bagaimana orang menafsirkannya,” tutup Nyoman.
Dengan filosofi mendalam dan pemikiran yang matang, Nyoman Nuarta berharap Istana Garuda dapat menjadi simbol persatuan yang kuat bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sumber: Info Publik
BACA JUGA
