Perjuangan Gizi Indonesia Pascakemerdekaan

inimalangraya.com,- Indonesia pascakemerdekaan menghadapi banyak tantangan, salah satunya adalah masalah gizi dan kesehatan masyarakat. Dr. Sri Margana, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa kondisi masyarakat Indonesia di awal kemerdekaan sangat memprihatinkan. Kemiskinan dan kelaparan melanda berbagai daerah, terutama di Jawa.
“Masyarakat terpaksa makan bongkol pisang dan ketela pohon, atau apa saja yang bisa dimakan saat itu,” kata Sri dalam keterangannya yang diterima pada Rabu (14/8).
Pada tahun 1950, Pemerintah Indonesia mendirikan Lembaga Makanan Rakyat untuk membantu masyarakat mendapatkan akses makanan yang sehat. Upaya ini berlanjut dengan mendirikan fakultas kedokteran dan mendapatkan bantuan tenaga ahli untuk meningkatkan sumber daya manusia di bidang kesehatan.
“Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tenaga ahli, pemerintah mulai menggagas pendirian pabrik susu pertama untuk mengatasi masalah nutrisi, terutama bagi anak-anak Indonesia,” ujar Sri Margana.
Peran Penting Hamengkubuwono IX
Gusti Kanjeng Ratu Hayu, Putri Keempat Sri Sultan Hamengkubuwono X, menjelaskan bahwa pada tahun 1955, Hamengkubuwono IX menyediakan lahan untuk pendirian pabrik NV Saridele di Yogyakarta. Pertimbangannya adalah pasokan dan kualitas kedelai yang cukup di daerah tersebut. Hamengkubuwono IX juga melihat prospek baik dari pabrik ini dan menyediakan lahan untuk penanaman dan pembibitan kedelai.
Pabrik NV Saridele, yang kini dikenal sebagai Sarihusada, membawa manfaat besar bagi masyarakat. Petani kedelai mendapatkan pendapatan stabil, yang berdampak positif pada ekonomi lokal.
“Produktivitas pabrik sangat baik, menghasilkan 300 ton susu pada tahun 1957, dengan 100 ton di antaranya dijual langsung ke masyarakat,” ungkap Gusti Hayu.
Sarihusada terus berkomitmen untuk melakukan riset dan inovasi, didukung fasilitas Research Center di Yogyakarta, guna menghadirkan produk bergizi yang menjawab tantangan kebutuhan gizi. Salah satunya adalah SGM Eksplor, susu formula dengan IronC™, kombinasi unik zat besi dan vitamin C yang mendukung penyerapan nutrisi dua kali lipat. Selain pengembangan produk, Sarihusada juga menghadirkan berbagai program yang berfokus pada edukasi dan kesejahteraan masyarakat.
Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, menuturkan bahwa Sarihusada berkomitmen mendukung tumbuh kembang anak. Dukungan tersebut melalui produk nutrisi berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. Dalam rangka 70 tahun Sarihusada, mereka meluncurkan Program Bantuan Dana Pendidikan senilai Rp2 miliar untuk 70 anak tingkat SD di berbagai daerah di Indonesia.
Sarihusada juga mendukung pencegahan anemia dengan menghadirkan inovasi anemia screener yang dapat diakses gratis melalui internet. Selain itu, mereka menyediakan layanan Careline 24 jam sehari untuk menjawab pertanyaan orang tua tentang nutrisi dan perkembangan anak.
Pengalaman Orang Tua
Hildah Alfiani, seorang ibu rumah tangga, berbagi pengalamannya memilih SGM sebagai susu pertumbuhan untuk anaknya.
“Sebagai ibu, saya ingin anak saya sehat, pintar, dan berprestasi dengan memastikan nutrisinya lengkap. Awalnya tahu SGM dari rekomendasi kakak, setelah cari tahu, ternyata nutrisinya lengkap dan anak saya cocok serta suka,” ungkap Hildah.
Tahun ini, Sarihusada merayakan 70 tahun perjalanannya memberikan nutrisi terbaik untuk anak-anak Indonesia. Dimulai dengan berdirinya NV Saridele pada tahun 1954 sebagai jawaban atas masalah gizi pascakemerdekaan. Kini Sarihusada terus berinovasi dan berkomitmen menutrisi anak Indonesia dari generasi ke generasi.
Dengan aksi nyata melalui inovasi produk dan program edukatif, Sarihusada siap melanjutkan misinya. Hal ini untuk membawa dampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Sejarah panjang dan komitmen ini menjadi bukti nyata bahwa perjuangan Indonesia dalam mengatasi masalah gizi telah menghasilkan perubahan besar bagi kesejahteraan anak-anak bangsa.
Sumber: Info Publik
BACA JUGA
