Jangan Panik! Ini Kata Akademisi UGM Soal Gempa Megathrust

Kecemasan masyarakat akan gempa megathrust semakin meningkat. Ahli Gempa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir. Gayatri Indah Marliyani, memberikan penjelasan yang lebih mendetail.
Zona Megathrust di Indonesia. Foto: BNPB

Yogyakarta, inimalangraya.com,- Kecemasan masyarakat akan gempa megathrust semakin meningkat. Ahli Gempa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir. Gayatri Indah Marliyani, memberikan penjelasan yang lebih mendetail. Gayatri menekankan bahwa meskipun risiko gempa megathrust dan tsunami selalu ada, masyarakat tidak perlu panik. Sebagai gantinya, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan mengikuti arahan dari para ahli.

Dalam Diskusi Pojok Bulaksumur yang digelar di selasar tengah Gedung Pusat UGM, Kamis, (22/8), Gayatri menjelaskan bahwa gempa megathrust biasanya terjadi di sekitar batas zona subduksi, yaitu di antara lempeng benua dan lempeng samudra.

Ketika lempeng tidak bisa bergerak dan menimbun energi dalam jumlah besar, energi tersebut akan dilepaskan menjadi gempa besar yang berpotensi memicu tsunami. Ia mencontohkan gempa megathrust terbesar yang pernah terjadi di Valdivia, Chile Selatan, dengan kekuatan 9,5 magnitudo.

Wilayah Indonesia, khususnya selatan Pulau Jawa, bagian timur Pulau Jawa, dan selatan Pulau Lombok, sangat rentan terhadap gempa megathrust akibat aktivitas subduksi yang tinggi. Menurut Gayatri, sejarah gempa dahsyat seperti Aceh tahun 2004 dan Pangandaran tahun 2006 menjadi bukti kuat potensi gempa besar di wilayah ini. Untuk memprediksi gempa di masa mendatang dengan lebih akurat, diperlukan data geologi yang lengkap dan analisis mendalam.

Peran Pemerintah dan Edukasi Masyarakat

Galih Aries Swastanto, M.Sc., seorang peneliti di Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM, menekankan bahwa pemerintah memiliki peran krusial dalam penanggulangan bencana megathrust. Ia menyebutkan bahwa penanganan bencana merupakan tanggung jawab pemerintah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Penanggulangan Bencana.

Pemerintah harus memastikan adanya penanganan yang tepat sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi. Selain itu, edukasi mengenai pengetahuan kebencanaan dan cara-cara penanggulangannya harus digalakkan kepada masyarakat.

Galih juga menyatakan bahwa sistem peringatan dini di Indonesia sudah berfungsi dengan baik dan mampu mendeteksi berbagai jenis bencana. Dengan sistem yang ada, masyarakat diharapkan bisa lebih siap dan tenang menghadapi potensi bencana yang bisa terjadi kapan saja.

Para pakar menyarankan agar pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terus menyampaikan pengetahuan mengenai kebencanaan secara konsisten dan berkala. Dengan demikian, masyarakat bisa tetap waspada tanpa perlu merasa takut berlebihan. Persiapan yang matang dan edukasi yang berkelanjutan menjadi kunci dalam menghadapi ancaman gempa megathrust di masa depan.

Sumber: Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Komentar