Strategi BRIN: Tangguh Hadapi Gempa Megathrust

Jakarta, inimalangraya.com,- Acara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yakni BRIN Insight Every Friday (BRIEF) yang membahas gempa megathrust telah menggarisbawahi pentingnya strategi untuk mengurangi dampak bencana ini di Indonesia. Acara ini diselenggarakan pada, Jumat, (30/8), dengan tema “Mengenal Megathrust dan Mitigasinya”.
Nuraini Rahma Hanifa, Peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, menyampaikan bahwa upaya pengurangan risiko bencana dapat dicapai melalui pemahaman yang mendalam dan langkah-langkah yang tepat.
Megathrust bukanlah fenomena baru bagi Indonesia. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa wilayah sepanjang Sumatra, beberapa bagian di Jawa, dan wilayah Indonesia Timur sering mengalami gempa megathrust yang disertai tsunami.
Rahma menyampaikan bahwa gempa megathrust merupakan suatu keniscayaan yang harus diterima sebagai bagian dari proses alam. Akan tetapi, melalui penelitian yang mendalam, kita dapat berupaya meminimalisir dampaknya dengan melakukan upaya adaptasi dan mitigasi.
Riset dan Peta Gempa sebagai Dasar Mitigasi
Sejak megathrust pertama kali mendapat perhatian utama pada 2011, banyak riset dilakukan untuk mendukung mitigasi bencana. Menurut peta gempa 2017 yang saat ini tengah diperbarui dan diharapkan selesai pada akhir 2024. Lokasi-lokasi megathrust di Indonesia umumnya terletak di sisi barat Sumatra hingga selatan Jawa.
Di selatan Jawa, misalnya, megathrust membentang sepanjang 1.000 kilometer dengan lebar sekitar 200 kilometer, mencapai kedalaman hingga 60 kilometer, dan terus mengakumulasi energi yang bisa dilepas kapan saja.
Dalam menghadapi ancaman megathrust, Rahma menekankan pentingnya memahami faktor-faktor yang dapat dan tidak dapat kita kendalikan, seperti pergerakan bumi dan pertumbuhan penduduk.
“Risiko bencana adalah fungsi dari bahaya dan kerentanan, dibagi dengan kapasitas atau kemampuan kita untuk beradaptasi,” jelasnya.
Ancaman megathrust tidak hanya berupa goncangan gempa di permukaan dan surface rupture. Gempa ini juga mencakup ancaman sekunder seperti tsunami, longsor, likuifaksi, dan kebakaran.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, masyarakat dan pemerintah perlu memiliki pemahaman yang baik tentang megathrust. Hal ini termasuk upaya pendidikan, pelatihan evakuasi, serta pembangunan infrastruktur yang tahan gempa. BRIN, melalui penelitiannya, berkomitmen untuk terus mendukung langkah-langkah mitigasi dan adaptasi demi mengurangi risiko bencana alam di masa depan.
Dengan pemahaman dan kesiapsiagaan yang lebih baik, Indonesia diharapkan dapat lebih tangguh menghadapi potensi gempa megathrust di masa mendatang.
Sumber: Info Publik
BACA JUGA
