Melangkah ke Puncak: Indonesia, Peringkat 3 Ekonomi Syariah!

Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) 2024. Foto: Dok BI
Festival Ekonomi Syariah Bank Indonesia

inimalangraya.com,– Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar. Indonesia kini berada di peringkat ketiga dalam ekonomi syariah global, hanya di bawah Malaysia dan Arab Saudi. Kesuksesan ini tercermin dalam laporan The Global Islamic Economy Indicator dari State of Global Islamic Economy (SGIE) 2023 yang dirilis oleh Dinar Standard di Dubai. Ini adalah bukti nyata dari potensi besar ekonomi di Indonesia yang semakin diakui dunia internasional.

Pilar Utama Pertumbuhan Ekonomi Syariah

Pengembangan sektor ekonomi syariah di Indonesia melibatkan beberapa subsektor unggulan dalam halal value chain (HVC). Subsektor ini meliputi pertanian, makanan dan minuman halal, fesyen muslim, dan pariwisata ramah muslim. Semua berkontribusi hampir 23 persen terhadap perekonomian nasional, dengan sektor pertanian dan makanan minuman halal sebagai penyumbang terbesar, diikuti oleh pariwisata ramah muslim dan fesyen muslim.

Pembiayaan Syariah Tumbuh Pesat

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung mencatat pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah sebesar 14,07 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Mei 2024. Angka ini mengungguli pertumbuhan pembiayaan konvensional yang hanya mencapai 12,15 persen yoy. “Pemerintah telah menerapkan berbagai inovasi untuk terus mengembangkan potensi ekonomi syariah Indonesia. Hal tersebut termasuk pengembangan cash waqf linked sukuk.  Pengembangan itu telah mendapatkan penghargaan dari Islamic Development Bank,” jelas Juda dalam acara Kickoff Bulan Pembiayaan Syariah 2024 di Jakarta.

Strategi Kunci Pengembangan Ekonomi Syariah

  • Inovasi Produk dan Digitalisasi

Inovasi produk dan digitalisasi menjadi strategi utama dalam menarik konsumen. Produk keuangan syariah di Kanada dengan layanan ‘Manzil’ menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dapat menarik minat masyarakat. “Industri keuangan syariah di Indonesia harus menonjolkan kekhasan aspek syariah agar konsumen semakin terdorong untuk beralih dari konvensional ke syariah,” ujar Juda.

  • Peningkatan Inklusi dan Literasi Keuangan Syariah

Pemerintah menargetkan literasi keuangan syariah mencapai 50 persen pada 2025. Ini memerlukan akselerasi inklusi dan literasi melalui strategi edukasi yang lebih efektif dan modern. “Kita harus melangkah lebih cepat dalam meningkatkan literasi keuangan syariah agar target 2025 bisa tercapai,” tambahnya.

  • Sinergi Antarlembaga

Kolaborasi antara lembaga menjadi kunci pengembangan keuangan syariah. Proyek-proyek bersama antarkementerian, lembaga, dan industri, seperti inkubasi bisnis UMKM, Festival Ekonomi Syariah (Fesyar), dan Indonesia Sustainability Forum (ISF), serta ekosistem pondok pesantren inklusif keuangan syariah, diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan sektor ini. “Kami berupaya mencapai akselerasi pembiayaan syariah guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Juda.

Dengan komitmen kuat dari pemerintah dan strategi pengembangan yang inovatif, ekonomi syariah Indonesia memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan menjadi penopang utama perekonomian nasional. Keberhasilan ini tidak hanya akan membawa manfaat ekonomi, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu negara terdepan dalam ekonomi syariah di dunia. Raih peluang emas ini dan saksikan transformasi ekonomi Indonesia menuju puncak kejayaan!

Sumber: Indonesia.go.id

Tinggalkan Komentar