Wisata Aman dengan Inovasi Prakiraan Cuaca Berbasis Dampak

JAKARTA, inimalangraya.com,- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, secara resmi meluncurkan Sistem Informasi Prakiraan Cuaca Berbasis Dampak (Impact-Based Forecasting/IBF) dalam sektor pariwisata.
Program inovatif ini diperkenalkan dalam acara The Weekly Brief With Sandi Uno yang digelar secara hybrid di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, pada Senin (19/8). Sistem IBF adalah hasil kolaborasi antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kerja sama antara Kemenparekraf dan BMKG telah terjalin sebelumnya melalui Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS), bertujuan memanfaatkan data cuaca yang akurat untuk menunjang sektor pariwisata.
Tahun ini, kolaborasi tersebut diwujudkan dalam pembangunan Sistem IBF. Sistem IBF dirancang untuk memberikan peringatan dini terkait dampak cuaca terhadap pengalaman wisatawan.
Sandiaga menyatakan, “Sistem ini akan memudahkan wisatawan dalam mengatur jadwal liburan mereka dengan memperhatikan faktor cuaca.”
Pilot Project di Labuan Bajo dan Manfaat yang Diharapkan
Labuan Bajo dipilih sebagai pilot project untuk sistem ini. Hal tersebut diharapkan akan membantu memitigasi risiko bencana di daerah wisata berisiko tinggi. Frans Teguh, Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), menyebutkan bahwa sensitivitas terhadap cuaca sangat penting untuk keselamatan dan kenyamanan pengunjung.
“Dengan sistem ini, wisatawan akan merasa lebih aman dan terdorong untuk kembali berkunjung,” jelas Frans.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menambahkan bahwa Sistem IBF tidak hanya menyediakan prakiraan cuaca standar. IBF juga menampilkan potensi dampak cuaca ekstrem seperti kilat, puting beliung, longsor, dan banjir. Sistem ini dilengkapi dengan ribuan titik pengamatan, puluhan radar, dan satu satelit, menjadikannya sangat akurat.
“Wisatawan dapat mengoptimalkan kunjungan mereka dengan informasi yang diberikan oleh sistem ini,” tambah Dwikorita.
Kemenparekraf berkomitmen untuk menyebarluaskan informasi terkait Sistem IBF melalui berbagai kanal media. Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, menegaskan bahwa edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan sistem ini akan terus dilakukan. Terutama dalam penentuan waktu penyelenggaraan event dan ketangguhan destinasi wisata.
Kolaborasi Kemenparekraf dan BMKG dalam pengembangan Sistem IBF ini menjadi contoh nyata sinergi antar lembaga pemerintah dalam mendukung sektor pariwisata. Dengan pemanfaatan teknologi informasi yang canggih dan data cuaca yang akurat, diharapkan sistem ini dapat memberikan kontribusi signifikan. Sehingga daya saing destinasi wisata Indonesia di kancah internasional dapat meningkat.
Sumber: Info Publik
BACA JUGA
