Cara Sosialisasi Anak Dengan Temannya Tercermin Dari Perilaku Orang Tua

Sosialisasi Anak
Orang tua perlu perhatikan interaksi mereka dengan anak karena berpengaruh pada kehidupan sosial mereka (Pixabay)

Georgia, inimalangraya.com –  Cara orang tua dan anak-anak bermain bersama berpengaruh tentang bagaimana cara sosialisasi anak dengan rekannya.

Sebuah studi terbaru dari University of Georgia sebutkan bahwa seorang balita dapat menghadapi situasi sosial, tergantung pada pola asuh.

Orang tua bertanggung jawab karena sebagian besar waktu mereka bersama dengan  anak.

“Bukan hanya apa yang dilakukan ibu saat mereka berinteraksi. Dan bukan hanya apa yang dilakukan anak saat mereka berinteraksi,” kata Niyantri Ravindran, penulis utama studi dan asisten profesor di Fakultas Ilmu Keluarga dan Konsumen UGA.

“Hal ini tentang bagaimana perilaku mereka terjadi bersama. Dialog bolak-balik antara ibu dan anak tersebut berkontribusi pada cara anak sosialisasi dengan teman sebayanya.”

Pola Asuh Anak Pengaruhi Cara Sosialisasi

Pola asuh dapat melatih anak untuk menghadapi situasi sosial saat mereka bertumbuh.  Sebuah penelitian diambil berdasar dari data dari peneliti di University of Illinois.

Mereka membawa lebih dari 120 ibu dan anak-anak mereka yang berusia balita ke ruang bermain untuk mengamati cara mereka berinteraksi saat bermain.

Lalu, peneliti mengikuti anak-anak tersebut selama masa prasekolah, mengamati cara mereka berinteraksi dengan teman-teman mereka saat bermain.

Setelah enam bulan, peneliti memasangkan anak-anak dengan anak-anak yang belum pernah mereka temui. Lalu mereka mengamati cara pasangan anak tersebut berinteraksi.

Kemudian, saat anak-anak berusia sekitar 4 1/2 tahun, peneliti membawa anak-anak yang berpartisipasi untuk bermain dengan teman dekat.

Peneliti berfokus pada dua jenis perilaku utama: ketanggapan dan ketegasan.

“Memiliki keseimbangan antara kedua perilaku tersebut dapat membantu menghasilkan anak-anak yang lebih kompeten secara sosial.” —Niyantri Ravindran, College of Family and Consumer Sciences

Anak-anak yang menerima saran dari teman bermainnya dan antusias bermain dengan mereka mendapat skor tinggi dalam hal ketanggapan.

Meskipun banyak yang menganggap perilaku asertif sama dengan perilaku agresif, ketegasan dalam penelitian ini berarti bahwa anak-anak mengambil inisiatif.

Contohnya seperti mengajak anak lain bermain atau memunculkan ide untuk permainan.

Ibu dan anak memiliki hubungan yang kuat jika ibu peka terhadap perilaku anak dan anak merespons secara positif.

Ketika mereka menunjukkan dinamika ini selama bermain, anak-anak tersebut cenderung menunjukkan respons yang sama terhadap teman-temannya.

Demikian pula, ketika ibu peka dan anak-anak bersikap asertif selama bermain, anak-anak tersebut cenderung bersikap asertif terhadap anak-anak yang tidak mereka kenal.

Ketegasan merupakan keterampilan yang dibutuhkan saat bertemu teman sebaya baru.  Bertemu dengan orang baru dapat membuat banyak anak merasa gugup.

Mereka membutuhkan kepercayaan diri untuk mengambil inisiatif dan menegaskan diri mereka dengan cara yang penuh rasa hormat.

Namun, dengan seorang teman, mereka tahu apa yang diharapkan, sehingga merespons terasa lebih alami.

Menghabiskan Waktu Dengan Teman Dan Interaksi Dengan Orang Baru Berbeda

Berinteraksi dengan orang baru membutuhkan keterampilan yang berbeda dengan menghabiskan waktu bersama teman.

“Anda tidak ingin anak hanya patuh dan tidak pernah benar-benar mengambil inisiatif,” kata Ravindran. “Anda juga tidak menginginkan anak yang suka memerintah dan tidak pernah mendengarkan saran anak-anak lain. Memiliki keseimbangan antara kedua perilaku tersebut dapat membantu menghasilkan anak-anak yang lebih kompeten secara sosial.”

Pengasuh memainkan peran besar dalam cara anak-anak mengembangkan keterampilan dalam sosialisasi. Dan bukan hanya karena mereka adalah panutan utama anak-anak mereka.

Cara anak-anak dan orang tua berinteraksi berfungsi sebagai latihan untuk situasi sosial baru.

Sebagian besar waktu, orang tua yang bertanggung jawab. Mereka memutuskan aturan yang diikuti anak-anak mereka dan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan anak-anak mereka.

Saat bermain, hierarki itu runtuh. Anak-anak bebas memberi tahu orang tua mereka apa yang mereka inginkan dan bagaimana mereka ingin bermain.

“Anda akan membimbing anak Anda, mengajari mereka dan menunjukkan kepada mereka cara melakukan sesuatu, tetapi terkadang juga penting untuk mengikuti arahan mereka,” kata Ravindran. “Itu benar-benar dapat membantu menyeimbangkan perilaku tersebut.”

Studi ini diterbitkan dalam Developmental Psychology dan ditulis bersama oleh Nancy L. McElwain dari Departemen Pengembangan Manusia dan Studi Keluarga Universitas Illinois

Tinggalkan Komentar