Ini Rahasia Masyarakat Jepang Mendidik Anak Jadi Individu Tangguh

Tokyo, inimalangraya.com – Kultur pendidikan di Jepang memberi pengaruh bagaimana mendidik anak untuk menjadi individu tangguh dan punya daya tahan bagus.
Pada dasarnya, daya tahan dan ketangguhan menjadi kunci mengelola stres dimana hal ini berhubungan dengan peningkatan kinerja. Dan faktor tersebut menjadi inti pendidikan dasar di negara matahari terbit itu.
Dilansir dari Japan Today, seorang psikologi bernama Kate Lewis sering menceritakan tentang orang tua yang berkisah tentang anak balitanya yang hampir putus asa saat menyelesaikan tugas.
Ia sering kali menyerah dengan mudah saat pekerjaan rumah ia anggap terlalu sulit. “Sebagai orang tua yang menghargai kemandirian, saya merasa kurangnya upaya ini mengkhawatirkan, bahkan untuk anak yang masih sangat kecil,” paparnya.
Karena itulah, ia meminta orang tua tersebut tetap meminta si anak tetapi bertahan dalam tugas-tugas yang menantang dan tidak menyerah pada kesulitan pertama.
“Jika ia tidak berhasil pada awalnya, saya minta ia mencoba lagi. Yang terpenting, saya percaya bahwa apa yang diajarkan kepadanya saat berusia dua tahun akan membentuk cara ia menjalani hidup di masa depan.
Pasalnya, memang ‘pembiaran’ tersebut akan mendorong anak untuk menjadi mandiri. Salah satu peribahasa Jepang yang menjadi pedoman orang tua di Jepang adalah:
Nana korobi ya oki (Jatuh tujuh kali, bangun delapan kali).
Karena itulah, mayoritas masyarakat Jepang selalu mendidik anaknya untuk tidak hanya berusaha untuk mencapai ‘kesuksesan’. Tetapi terus mencoba apa pun rintangan yang menghadangnya.
Pemberian Motivasi dan Pujian
Menurut Kate, orang tua kerap mengatakan pada anak ‘semoga sukses’ saat hendak ujian misalnya. Hal ini berbeda dengan masyarakat Jepang dimana mereka selalu mengatakan ‘Ganbatte’ atau ‘lakukan yang terbaik’ dan bukan sekedar sukses atau beruntung.
Ia juga tambahkan bahwa orang tua di Jepang juga memiliki beberapa perbedaan pola didik dengan masyarakat di negara barat.
Anak-anak di dunia berat akrab dengan kalimat seperti “kamu sangat cerdas”. Sebuah studi inovatif dari para peneliti di Universitas Chicago dan Stanford mengindikasikan bahwa orang tua seharusnya memuji anak-anak mereka atas usaha mereka, dengan “kamu sudah bekerja sangat keras”.
Ia menambahkan daripada membatasi anak dengan memberi tahu mereka apa yang sudah mereka miliki, dorong mereka untuk percaya bahwa potensi mereka tidak terbatas.
Mereka dapat menjadi dan melakukan apa pun yang mereka suka, selama mereka bekerja keras dan berusaha.
“Dengan memuji usaha mereka, maka Anda mendorong mereka untuk berusaha lebih keras lagi,” lanjutnya.
Kekuatan Kata ‘Belum Bisa’
Ia katakan bahwa anak sering katakan bahwa ia tidak bisa menyelesaikan tugas.
“Ajari anak mengatakan bahwa ia ‘belum bisa’ menyelesaikan tugas, dan tidak membiasakan ‘tidak bisa,’” lanjutnya.
Perubahan pemikiran yang kuat ini menjadi penerapan utama di Jepang, baik di sekolah, tempat kursus atau bahkan di berbagai kegiatan.
Seorang psikolog Angela Duckworth dalam buku terlarisnya ‘Grit’ menliskan bahwa sistem sekolah Jepang dianggap sebagai model pengajaran ketahanan, atau seperti yang disebut Duckworth, ‘kegigihan.’
“Yang terpenting untuk anak adalah bukan bakat apa yang ia miliki sejak lahir, melainkan apa yang bisa ia lakukan selama proses tumbuh kembang,” tulis Duckworth.
Beberapa anak mungkin memiliki lebih banyak kemampuan alami dalam matematika, atau seni, dan mungkin bahasa.
Namun, sekolah di Jepang tidak semata-mata mempromosikan kemampuan alami. Tetapi, setiap sekolah mendidik anak untuk belajar apa saja dan melakukan tugas hingga berhasil.
“Dalam hal ini, mereka dapat mengatakan ‘belum mengerti’ daripada ‘tidak mengerti’ sehingga mereka dapat mencoba melakukan banyak hal,” lanjutnya.
BACA JUGA

