Gaya Hidup Tak Sehat, Resiko Jantungan di Usia Muda

Jakarta, inimalangraya.com,- Penyakit jantung kini tak hanya menjadi ancaman bagi orang tua, tetapi juga mulai menyasar usia muda. Gaya hidup semakin sedentary, banyak duduk, dan kurang berolahraga membuat tubuh kurang bergerak. Hal tersebut menyebabkan metabolisme menjadi lambat dan risiko penyakit jantung meningkat.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menyebutkan bahwa perubahan gaya hidup yang tidak sehat menjadi penyebab utama pergeseran usia penderita penyakit jantung.
Nadia menjelaskan bahwa terdapat empat perilaku utama yang memperbesar risiko penyakit jantung. Empat perilaku tersebut antara lain merokok, kurangnya aktivitas fisik, minimnya konsumsi buah dan sayur, serta tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).
Perilaku ini berkontribusi pada meningkatnya kasus penyakit jantung koroner (PJK). PJK juga memicu komplikasi serius seperti henti jantung mendadak atau sudden cardiac death.
Anjuran Gizi Seimbang untuk Mencegah Jantung Koroner
Dr. Rita Ramayulis, dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia, menekankan pentingnya pengaturan konsumsi GGL sebagai langkah pencegahan. Konsumsi gula sebaiknya dibatasi hingga 50 gram per hari, garam 2.000 mg per hari, dan lemak 67 gram per hari.
“Kecukupan konsumsi gula dalam pembagian bahan makanan sehari menurut gizi seimbang untuk laki-laki usia 19-29 tahun adalah 2725 kkal,” jelas Dr. Rita.
Penyakit jantung masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Data Global Status Report on NCD 2019 menunjukkan 17,8 juta kematian terjadi setiap tahun akibat penyakit ini, atau 1 dari 3 kematian global.
Di Indonesia, stroke dan penyakit jantung iskemik menjadi penyebab utama kematian. Meski data menujukan terjadi penurunan kasus stroke dari 21,8 persen pada 2019 menjadi 18,49 persen pada 2021.
Kementerian Kesehatan telah menerapkan strategi pencegahan dan pengendalian PJK dengan pendekatan PATUH dan CERDIK. PATUH meliputi pemeriksaan rutin dan gaya hidup sehat, sementara CERDIK fokus pada pencegahan dengan pola hidup yang aktif dan seimbang.
Sumber: Kemenkes RI
BACA JUGA

